Konsisten atau Viral, Mana yang Lebih Penting untuk Bisnis UMKM?

 

 

Malang, 26 Agustus 2026 – Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis Universitas Islam Malang (LPKIB UNISMA) kembali memberikan edukasi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kali ini, LPKIB UNISMA menggelar pelatihan daring melalui akun TikTok LPKIB UNISMA.

Elsa Mawar Rizky, peserta Internship LPKIB UNISMA, menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia membahas topik “Konsisten atau Viral, Mana yang Lebih Penting untuk Bisnis UMKM?”

Kegiatan ini membahas pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran digital bagi UMKM. Media sosial dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk, menjangkau konsumen, membangun brand awareness, berinteraksi dengan pelanggan, dan meningkatkan peluang penjualan.

Materi juga membahas perbedaan viralitas dan konsistensi dalam membangun bisnis di era digital. Keduanya memiliki peran berbeda. UMKM dapat menggabungkan kedua strategi tersebut agar konten tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perkembangan bisnis.

Media Sosial sebagai Sarana Pemasaran UMKM

Media sosial menjadi salah satu sarana penting bagi UMKM untuk memperkenalkan produk. Platform digital juga membantu usaha menjangkau konsumen yang lebih luas.

Selain melakukan promosi, pelaku UMKM dapat menggunakan media sosial untuk membangun brand, berinteraksi dengan pelanggan, dan menciptakan peluang penjualan.

Persaingan konten yang semakin tinggi membuat pelaku UMKM perlu menentukan strategi yang tepat. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah bisnis sebaiknya mengejar viralitas atau menjaga konsistensi dalam membuat konten.

Viral Tidak Selalu Berarti Penjualan

Konten viral dapat memberikan dampak besar dalam waktu singkat. Viralitas mampu meningkatkan jangkauan konten, menambah followers, memperkuat brand awareness, dan mendorong interaksi dengan audiens.

Namun, jumlah views yang tinggi tidak selalu menghasilkan peningkatan penjualan. Sebuah konten dapat memperoleh 100.000 views. Meski demikian, hanya sebagian audiens yang mungkin mengunjungi profil, melihat produk, menghubungi penjual, dan melakukan pembelian.

Karena itu, UMKM tidak cukup mengukur keberhasilan pemasaran digital dari jumlah tayangan. Pelaku usaha perlu melihat bagaimana perhatian audiens berubah menjadi ketertarikan, kepercayaan, dan akhirnya pembelian.

Konsistensi sebagai Fondasi Bisnis

Selain viralitas, konsistensi menjadi fondasi penting dalam membangun bisnis jangka panjang. Konsistensi tidak berarti UMKM harus mengunggah konten setiap hari.

Hal yang lebih penting adalah menjaga keteraturan dalam jadwal, kualitas, identitas visual, gaya komunikasi, pesan brand, dan interaksi dengan pelanggan.

Konten yang konsisten membuat audiens lebih mudah mengenali sebuah brand. Konsistensi juga membantu UMKM membangun kepercayaan, memperkuat identitas, meningkatkan brand awareness, dan menjaga hubungan dengan pelanggan.

Dengan demikian, viralitas dapat membantu bisnis dikenal lebih banyak orang. Sementara itu, konsistensi membantu bisnis tetap diingat dan dipercaya oleh audiens.

Menggabungkan Viralitas dan Konsistensi

Pelaku UMKM tidak harus memilih antara konsisten atau viral. Keduanya dapat berjalan bersama dengan fungsi yang berbeda.

Konsistensi menjadi fondasi untuk membangun brand dan hubungan jangka panjang. Sementara itu, viralitas dapat menjadi peluang untuk memperluas jangkauan dalam waktu singkat.

Pelaku UMKM dapat tetap membuat konten secara konsisten sambil memanfaatkan momentum viral yang relevan dengan karakter bisnis. Strategi ini membantu UMKM memanfaatkan tren tanpa kehilangan identitas brand.

Dengan pendekatan tersebut, tren tidak berhenti pada jumlah views. Pelaku usaha dapat mengarahkan perhatian audiens menuju interaksi dan peluang penjualan.

Membuat Konten yang Beragam

Untuk menjaga konsistensi, UMKM tidak harus selalu membuat konten promosi. Pelaku usaha dapat membuat konten yang lebih beragam agar media sosial tetap menarik bagi audiens.

Beberapa jenis konten yang dapat digunakan antara lain edukasi, promosi, hiburan, interaksi, dan storytelling. Setiap jenis konten memiliki tujuan yang berbeda.

UMKM dapat menyesuaikan jenis konten dengan karakter bisnis dan kebutuhan target audiens. Konten yang beragam juga membantu usaha membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens.

Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk berjualan. Platform tersebut juga dapat menjadi ruang untuk memberikan informasi dan membangun komunitas pelanggan.

Memanfaatkan Tren secara Tepat

Mengikuti tren dapat meningkatkan peluang konten mendapatkan jangkauan yang lebih luas. Namun, UMKM tidak perlu mengikuti setiap tren yang muncul.

Pelaku usaha perlu memilih tren yang sesuai dengan karakter brand dan target audiens. Setelah menemukan tren yang relevan, UMKM dapat mengolahnya menjadi konten yang berkaitan dengan produk atau jasa.

Strategi tersebut dapat mengikuti alur Trend → Konten → Engagement → Conversion. Dengan alur ini, tren tidak berhenti pada viralitas. Pelaku usaha dapat mengarahkannya menuju interaksi dan peluang penjualan.

Mengukur Keberhasilan Konten

UMKM tidak cukup melihat jumlah views untuk mengukur keberhasilan konten digital. Pelaku usaha perlu memperhatikan beberapa indikator lain.

Views menunjukkan jangkauan konten. Engagement menggambarkan ketertarikan audiens. Followers menunjukkan pertumbuhan audiens. Sementara itu, DM dapat menunjukkan minat calon pelanggan.

Pada tahap berikutnya, sales menunjukkan terjadinya konversi. UMKM juga dapat melihat repeat order sebagai salah satu indikator loyalitas pelanggan.

Karena itu, pelaku usaha perlu mengajukan pertanyaan yang lebih luas. Bukan hanya “Berapa banyak orang yang melihat konten ini?”, tetapi juga “Apa dampak konten ini terhadap bisnis?”

Kesalahan yang Perlu Dihindari UMKM

Pelaku UMKM perlu menghindari beberapa kesalahan saat menjalankan pemasaran melalui media sosial. Kesalahan tersebut antara lain hanya membuat konten ketika ingin berjualan, terlalu mengejar viralitas, dan mengikuti semua tren tanpa mempertimbangkan karakter brand.

UMKM juga perlu memahami target audiens dan mengevaluasi hasil setiap konten. Tanpa evaluasi, pelaku usaha akan kesulitan mengetahui strategi mana yang memberikan dampak terbaik.

Untuk mengembangkan strategi secara berkelanjutan, UMKM dapat menerapkan pola sederhana:

Rencanakan → Konsisten → Evaluasi → Perbaiki → Ulangi.

Pola tersebut membantu pelaku usaha menjaga rutinitas sekaligus memperbaiki strategi berdasarkan hasil yang diperoleh.

Konsistensi dan Viralitas untuk Perkembangan Bisnis

Pada akhirnya, viralitas dan konsistensi tidak perlu menjadi dua pilihan yang saling bertentangan. Viralitas dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan perhatian audiens. Sementara itu, konsistensi membantu mempertahankan perhatian dan membangun kepercayaan.

Viralitas dapat memperluas jangkauan bisnis. Konsistensi kemudian membantu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Dengan menggabungkan keduanya secara seimbang, UMKM dapat memanfaatkan media sosial secara lebih optimal. Media sosial tidak hanya berfungsi untuk mendapatkan views, tetapi juga membantu membangun brand, meningkatkan engagement, menciptakan pelanggan, dan membuka peluang bisnis yang berkelanjutan.

Jadi, mana yang lebih penting: konsisten atau viral? Untuk membangun bisnis jangka panjang, konsistensi menjadi fondasi. Sementara itu, viralitas dapat menjadi peluang untuk memperluas jangkauan. Keduanya akan lebih kuat ketika UMKM mampu menggunakannya secara tepat dan seimbang.