
MALANG – Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui Pusat Pengembangan Kewirausahaan berkolaborasi dengan Rumah BUMN Kota Malang dalam menyelenggarakan Pelatihan UMKM 2026 bertema “Strategi Manajemen Risiko dalam Menghadapi Tantangan Bisnis.” Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Google Meet pada Senin, 15 Juni 2026, mulai pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan Kepala Pusat Pengembangan Kewirausahaan UNISMA, Dr. Mohamad Bastomi, S.E., M.M., MOS., CIBA., CRMP., sebagai pemateri.
Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan mitra pengembangan UMKM dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Melalui kegiatan tersebut, UNISMA berkontribusi dalam memberikan penguatan pengetahuan dan pendampingan kewirausahaan, sedangkan Rumah BUMN Kota Malang menjadi mitra strategis yang mempertemukan akademisi dengan pelaku usaha agar materi yang diberikan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Pelatihan diikuti oleh pelaku UMKM yang bergerak dalam bidang kuliner serta makanan dan minuman. Peserta berasal dari berbagai unit usaha, antara lain Mini Kuki, Lumpia Mbak Dy, Rizky Barokah, Bilqisfood, Bumbu SY, Ahaa Kitchen, D’MOYRA, Seruni Dapur Koe, Resto Dine-In Cahaya, Aiza Cuisine, serta Rujak Cingur dan Tahu Telur. Keragaman jenis usaha tersebut membuat pembahasan manajemen risiko semakin relevan karena setiap pelaku usaha menghadapi tantangan operasional, keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia yang berbeda.
Dalam pemaparannya, Dr. Mohamad Bastomi menjelaskan bahwa risiko merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas bisnis. Pelaku UMKM dapat menghadapi kenaikan harga bahan baku, keterlambatan pasokan, kerusakan peralatan, gangguan arus kas, perubahan permintaan konsumen, munculnya pesaing baru, pergantian tenaga kerja, perubahan regulasi, hingga risiko eksternal seperti bencana alam dan kondisi ekonomi.
Menurutnya, salah satu kelemahan yang masih sering terjadi pada usaha mikro adalah pola pengelolaan yang bersifat reaktif. Pelaku usaha cenderung baru mengambil tindakan setelah masalah muncul. Oleh karena itu, UMKM perlu mulai membangun pola pikir yang lebih antisipatif dengan mengenali risiko sejak awal, menilai tingkat kemungkinan dan dampaknya, serta menyiapkan strategi penanganan sebelum risiko tersebut mengganggu kelangsungan usaha.
Materi pelatihan disampaikan melalui empat tahapan utama manajemen risiko, yaitu risk register, risk scoring, risk matrix, dan risk treatment. Risk register digunakan untuk mencatat berbagai potensi risiko yang mungkin dihadapi usaha. Risk scoring digunakan untuk menilai kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan. Hasil penilaian tersebut kemudian dipetakan dalam risk matrix untuk menentukan kategori risiko rendah, sedang, atau tinggi. Tahap terakhir adalah risk treatment, yaitu menentukan strategi penanganan yang paling sesuai dengan kemampuan dan kondisi usaha.
Agar lebih mudah dipahami, materi disampaikan melalui studi kasus usaha mikro “Keripik Makmur”. Dalam studi kasus tersebut, peserta diajak mengidentifikasi beberapa risiko, seperti kenaikan harga singkong, kerusakan alat produksi, arus kas negatif, munculnya pesaing baru, pekerja yang berhenti mendadak, perubahan regulasi kemasan, serta bencana alam. Peserta kemudian mempelajari cara memberikan skor pada setiap risiko dan menentukan prioritas penanganannya.
Dr. Mohamad Bastomi memberikan contoh bahwa risiko kenaikan harga bahan baku dapat dikurangi dengan memiliki beberapa pemasok alternatif, melakukan pembelian ketika harga lebih rendah, dan menyiapkan stok sesuai kapasitas penyimpanan. Risiko arus kas negatif dapat dikelola melalui pencatatan keuangan yang tertib, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, penerapan uang muka untuk pesanan besar, serta penyediaan dana cadangan operasional. Sementara itu, risiko kerusakan alat dapat diminimalkan melalui perawatan rutin, penyediaan suku cadang, dan kerja sama dengan teknisi.
Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai empat strategi penanganan risiko, yaitu menghindari, mengurangi, mengalihkan, dan menerima risiko. Strategi menghindari diterapkan apabila suatu aktivitas memiliki potensi kerugian yang sangat besar. Strategi mengurangi dilakukan melalui tindakan pencegahan untuk menurunkan kemungkinan atau dampak risiko. Strategi mengalihkan dapat dilakukan melalui asuransi atau kerja sama dengan pihak ketiga. Adapun risiko dengan dampak kecil dapat diterima dengan tetap melakukan pemantauan secara berkala.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan contoh kasus yang dekat dengan kondisi peserta. Setiap pelaku UMKM didorong untuk menyusun daftar risiko berdasarkan karakteristik usahanya masing-masing, memberikan penilaian terhadap setiap risiko, menentukan prioritas, serta menetapkan tindakan penanganan yang realistis. Peserta juga diarahkan untuk meninjau kembali risk register secara berkala karena kondisi pasar, pemasok, pelanggan, dan operasional usaha dapat berubah.
Pada akhir kegiatan, Dr. Mohamad Bastomi menegaskan bahwa manajemen risiko bukan bertujuan menghilangkan seluruh masalah dalam bisnis, tetapi membantu pelaku usaha mengambil keputusan secara lebih terukur sebelum masalah terjadi. Dengan kesiapan yang baik, UMKM diharapkan mampu menjaga kelancaran produksi, mengendalikan arus kas, mempertahankan kepercayaan pelanggan, dan meningkatkan daya tahan usaha di tengah ketidakpastian.
Keterlibatan Dr. Mohamad Bastomi sebagai pemateri telah mendapat pengakuan melalui sertifikat yang diterbitkan oleh Rumah BUMN Kota Malang. Kolaborasi antara UNISMA dan Rumah BUMN Kota Malang ini sekaligus memperkuat peran LPKIB UNISMA dan Pusat Pengembangan Kewirausahaan dalam mendukung pengembangan UMKM yang lebih adaptif, terencana, tangguh, dan berkelanjutan.