MALANG – Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) Universitas Islam Malang (UNISMA) bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang sukses menggelar podcast bertajuk “Bincang Santai Bareng Gus” (BISA BAGUS). Podcast ini menjadi wadah diskusi penting mengenai kolaborasi strategis antara LPKIB dan Kemenag dalam pendampingan serta inkubasi masyarakat, khususnya di bidang koperasi.
Dalam podcast tersebut, Ibu Restu Millaningtyas, S.E., M.M., ACCAI, dari LPKIB UNISMA, menegaskan bahwa esensi utama dalam berwirausaha adalah keberkahan, kebermanfaatan, dan dampak positif bagi masyarakat. Beliau menekankan bahwa pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga perlu menyentuh dimensi kerohanian dan keislaman. Inilah yang menjadi landasan kehadiran LPKIB dan Kemenag untuk masyarakat.
Diskusi juga membahas luasnya cakupan bidang usaha yang dapat diinkubasi di LPKIB. Tidak hanya terbatas pada perdagangan, LPKIB juga membuka pintu bagi berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, jasa, dan seluruh bidang yang berpotensi menjadi lahan kewirausahaan.
Mohamad Bastomi, S.E., M.M., MMOS., CRMP., CIBA, selaku Ketua Pusat Kewirausahaan LPKIB, memaparkan program kerja unggulan dalam pendampingan tenant, khususnya koperasi. Ia menyoroti Koperasi Pondok Pesantren (KAPOTREN) sebagai unique value UNISMA dalam program pendampingan ini. Selain itu, UNISMA juga memberikan pendampingan intensif bagi dosen, karyawan, dan mahasiswa yang memiliki ide bisnis atau inovasi yang siap dikembangkan.
Salah satu topik menarik yang dibahas adalah potensi usaha di bidang peternakan bagi masyarakat miskin perkotaan dengan lahan sempit. Ir. Brahmadhita P. Mahardhika, S.Pt., M.Si., IPP (Kepala pusat inkubator bisnis), menjelaskan bahwa hal tersebut sangat mungkin diwujudkan melalui inovasi. Ia mencontohkan penggunaan penyemprotan dan pemberian pakan serta air minum yang mengandung probiotik untuk mengurangi bau amonia dari kotoran ternak, sehingga tidak mencemari lingkungan di pemukiman padat penduduk. Seluruh bidang usaha tidak hanya perdagangan sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat agar lebih berdaya.
Achmad Shampton, S.H.I., M.A.G., atau akrab disapa Gus Shampton, Ketua Kementerian Agama Kota Malang sekaligus host podcast, turut menekankan krusialnya pendampingan kerohanian di samping pendampingan ekonomi. Ia berbagi pengalaman bahwa bantuan ekonomi saja terkadang justru membuat masyarakat menjadi konsumtif alih-alih produktif. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dan penjaminan berkelanjutan. Gus Shampton mengusulkan agar bantuan diberikan secara bertahap dan dalam beberapa termin, disertai evaluasi. Jika terdapat dampak dan progres positif, bantuan akan dilanjutkan; namun, jika tidak, bantuan akan dihentikan. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem tanggung jawab dan produktif di masyarakat.
Di penghujung podcast, tercetus ide dan tagline untuk kegiatan premium (pemberdayaan ekonomi dan bina rohani), yaitu “Premium Fiddunya wal Akhiroh”. Program Premium ini merupakan bagian integral dari program Qoryah Sakinah yang digagas oleh Kemenag dan telah berhasil diimplementasikan dan akan di contoh oleh pemerintahan tingkat provinsi Jawa Timur. Program premium merupkan bagian dari program kemenag untuk pendampingan kerohanian dan ekonomi bagi umkm dan koperasi di Kota Malang.
Sebelum melakukan podcast ini, tim LPKIB unisma juga turut memberikan pendampingan pada program premium. Disampaikan materi mengenai mitigasi risiko usaha. Kemenag berharap dan terus bersinergi dengan LPKIB untuk mendampingi masyarakat pada bidang usaha yang berbasis kerohanian dan keislaman. Tentunya Perjanjian kerjasama ini tidak hanya sebatas sebuah perjanjian namun akan ada implementasi dan rencana rencana strategis yang berdampak positif bagi masyarakat.
