
Malang – Daycare “Anak Sholih” UNISMA yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) Universitas Islam Malang, pada Sabtu, 24 Januari 2026, sukses menggelar Seminar Parenting bertema “Fatherless: Bagaimana Daycare Membantu Tumbuh Kembang Emosional Anak.” Kegiatan ini dilaksanakan di ruang Daycare “Anak Sholih”, Gedung Bundar Al-Asy’ari lantai 1.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan penayangan video kegiatan sehari-hari siswa Daycare “Anak Sholih” LPKIB UNISMA. Seminar ini dihadiri oleh Wakil Rektor II Universitas Islam Malang, Dr. H. Ronny Malavia Mardani, S.E., M.M., MOS, Ketua LPKIB Ibu Restu Millaningtyas, S.E., M.M., ACCAI, serta Kepala Pusat Kewirausahaan LPKIB Dr. Mohamad Bastomi, S.E., M.M.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan acara pertama setelah penandatanganan program kerja LPKIB oleh Rektor UNISMA. Beliau memberikan apresiasi penuh kepada Daycare “Anak Sholih” dan LPKIB, tidak hanya atas kemampuan dalam mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga dalam mengembangkan sumber daya melalui penyelenggaraan seminar parenting ini. Beliau turut membagikan pengalamannya sebagai seorang ayah yang harus menyeimbangkan peran dan tanggung jawab di dalam keluarga serta di luar keluarga.
Sementara itu, Kepala Pusat Kewirausahaan LPKIB, Dr. Mohamad Bastomi, S.E., M.M., menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan para wali siswa yang telah mempercayakan pengasuhan putra-putrinya kepada Daycare “Anak Sholih” UNISMA. Ia menegaskan bahwa menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak usia dini merupakan suatu kebanggaan bagi para guru daycare.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Bapak Muhammad Jamaluddin Ma’mun, M.Si. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pengasuhan anak laki-laki dan perempuan pada hakikatnya berbeda dan tidak dapat disamakan, karena perbedaan perkembangan otak pada masing-masing anak. Ia juga menekankan pentingnya menghindari pelabelan negatif seperti kata “nakal” pada anak usia dini, karena pada dasarnya anak hanya sedang mencari perhatian dan belajar mengekspresikan diri.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa fatherless merupakan kondisi ketiadaan peran, fungsi, bahkan kehadiran fisik ayah dalam kehidupan anak. Berdasarkan Global Fatherhood Index Report, Indonesia pernah menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat fatherless yang tinggi. Fenomena ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain budaya patriarki, perceraian atau meninggalnya ayah, kondisi ekonomi, kurangnya tanggung jawab, permasalahan hukum, serta kondisi kesehatan.
Dampak fatherless terhadap perkembangan anak usia dini dapat berlangsung jangka panjang, seperti gangguan emosional dan kesehatan mental, hilangnya figur teladan ayah, kerentanan terhadap bullying dan penyalahgunaan zat, hambatan pada aspek pendidikan dan ekonomi, hingga trauma dalam kehidupan pernikahan di masa depan. Ketidakhadiran ayah juga berpengaruh terhadap kesetaraan peran ayah dan ibu dalam pengasuhan, sebagaimana ditekankan dalam SDGs poin 5 tentang Kesetaraan Gender.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak fatherless antara lain menghindari pola asuh yang toksik, menghadirkan role model yang positif, mengarahkan anak pada kegiatan yang bermanfaat, memperkuat peran ibu, menciptakan lingkungan yang kondusif, membangun komunikasi yang terbuka, serta menerima anak apa adanya.
Dalam perspektif Islam, peran ayah telah dicontohkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad SAW sebagai teladan spiritual, pembentuk karakter, penasihat, sekaligus pelindung keluarga. Dampak fatherless berupa krisis spiritual dan moral dapat diminimalisasi dengan mengoptimalkan peran ayah melalui komunikasi yang baik dan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan bersama anak.
Acara ditutup dengan penyampaian laporan capaian perkembangan siswa Daycare “Anak Sholih” tahun ajaran 2025–2026. Kegiatan ini menjadi wadah evaluasi komprehensif yang disampaikan oleh guru daycare terkait pembiasaan dan kemampuan siswa selama satu semester. Momen ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antara pihak daycare dan orang tua untuk memantau perkembangan emosional dan kemampuan anak guna membangun pola pengasuhan yang lebih optimal ke depan.
Melalui kegiatan ini, Daycare “Anak Sholih” UNISMA berharap dapat meningkatkan pemahaman orang tua mengenai fenomena fatherless, memberikan strategi pengasuhan yang tepat dan setara antara ayah dan ibu sesuai dengan SDGs poin 5, serta memperkuat sinergi antara orang tua dan daycare.