
Malang, 20 Agustus 2026 – Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar pelatihan kewirausahaan secara live melalui TikTok LPKIB UNISMA. Kegiatan ini mengangkat tema “Salah Langkah di Awal Bisnis: Kesalahan Fatal UMKM yang Wajib Dihindari”. Pelatihan tersebut membahas cara mengenali dan mengatasi berbagai risiko kegagalan usaha pada tahap awal. Materi juga mendorong pelaku UMKM untuk membangun bisnis secara inovatif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menekankan pentingnya pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi pelaku usaha. Pemahaman tersebut membantu pengelola bisnis mengambil keputusan secara lebih tepat. Pelaku UMKM juga perlu membangun sikap adaptif, disiplin, dan mampu menghadapi persaingan pasar. Puluhan peserta mengikuti kegiatan ini, mulai dari pelaku UMKM, calon wirausaha, hingga akademisi. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama penyampaian materi dan diskusi interaktif.
Nazjwa Siti Nur Aisyah hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia mengajak peserta mengenali berbagai kesalahan yang sering menghambat perkembangan bisnis pada tahun-tahun awal. Menurutnya, kegagalan usaha tidak selalu muncul karena kualitas produk yang buruk. Banyak bisnis justru menghadapi masalah karena pemilik belum membangun fondasi perencanaan dan tata kelola yang kuat sejak awal.
Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi pada UMKM
Dalam sesi materi, peserta mempelajari lima kesalahan fatal yang perlu mereka hindari. Pertama, pelaku usaha sering mengabaikan riset pasar dan membangun bisnis hanya berdasarkan asumsi. Padahal, riset membantu pemilik usaha memahami kebutuhan konsumen dan kondisi kompetitor. Kedua, banyak pelaku UMKM mencampurkan keuangan pribadi dengan uang usaha. Kebiasaan ini dapat mengganggu arus kas dan menyulitkan pemilik dalam memantau kondisi keuangan bisnis.
Kesalahan ketiga berkaitan dengan strategi pemasaran. Produk yang bagus tidak selalu menarik pembeli tanpa promosi yang tepat. Karena itu, UMKM perlu membangun branding dan memanfaatkan digital marketing untuk menjangkau pasar secara lebih luas. Kesalahan keempat muncul ketika pelaku usaha tidak mengelola kas secara bijak. Pengeluaran besar untuk kebutuhan yang belum mendesak dapat mengurangi dana cadangan dan mengganggu operasional saat penjualan menurun. Kesalahan kelima adalah menolak perubahan. Pelaku usaha perlu mengikuti perkembangan tren, teknologi, dan kebutuhan pelanggan agar bisnis tetap relevan.
Langkah Membangun Bisnis yang Lebih Kuat
Pemateri kemudian menjelaskan empat langkah yang dapat membantu pelaku UMKM mengembangkan bisnis secara lebih terarah. Langkah pertama dimulai dengan riset pasar dan pengamatan kompetitor. Pemilik usaha perlu menggali potensi serta menguji ide berdasarkan kondisi pasar yang nyata. Langkah kedua berfokus pada penyusunan strategi dan model bisnis. Pelaku UMKM dapat menggunakan analisis SWOT dan Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan bisnis secara lebih jelas.
Langkah ketiga mengarahkan pelaku usaha untuk menata operasional dan keuangan. UMKM dapat membuat Standard Operating Procedure (SOP) sederhana dan memisahkan kas pribadi dari kas usaha. Langkah terakhir mendorong pelaku usaha melakukan peluncuran produk secara terukur. Uji coba pasar dalam skala kecil atau sistem pre-order dapat membantu mengurangi risiko kerugian.
Membangun UMKM yang Adaptif dan Berkelanjutan
Pada sesi penutup, Nazjwa menekankan pentingnya membangun hubungan dengan pelanggan dan melakukan evaluasi secara rutin. Pelaku UMKM perlu mendengarkan masukan pelanggan serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Evaluasi juga membantu pemilik usaha mengetahui strategi yang berhasil dan menentukan langkah perbaikan.
Melalui kegiatan ini, LPKIB UNISMA terus mendorong peningkatan literasi manajemen dan kapasitas pelaku usaha. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu UMKM membangun bisnis yang kuat, sehat, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan fondasi bisnis yang baik, pelaku UMKM tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mampu menghadapi perubahan dan mengembangkan usahanya dalam jangka panjang.